Aku dan sendiriku...



Murung, diam dan tak tersentuh oleh siapapun. Aku adalah aku yang menutupi segala kegundahan dengan berbagai kata indah. Mungkin, bukan hanya kata indah melaikan senyuman indah pula. Tapi itu apa? Hanya sebuah tipuan belaka. Aku terjebak bersama kesendirianku. Aku hanyut dan tenggelam bersama kehampaan. Lidah kelu untuk ucapkan bantahan kebahagiaan. Lalu apa yang terjadi selanjutnya?. Aku tenggelam bersama ribuan tangis dengan untaian senyum penuh kedustaan. Aku bahagia, tapi bukan ini yang kuharapkan. Tuhan berkata “Sesuatu yang buruk belum tentu buruk untukmu.” Tapi aku merasa, keterpurukan ini membuatku kian tidak mengenali diriku. Sering aku sejenak terdiam hanya untuk mengatakan “Mereka adalah mereka, kamu adalah kamu”. Ku ucapkan agar aku tidak kehilangan diriku sendiri. Sebab, aku mulai menyadarinya, aku bukanlah orang yang kuat. Aku masih butuh kata ‘ajaib’ untuk menjaga diriku. Aku mudah kehilangan diriku sendiri. Aku sering berkata “terserah mereka...”. Karena terkadang aku juga merasa semua orang mulai merenggut diriku, membentuk kepribadian yang mereka inginkan aku menjadi. Aku lelah, suntuk dan kesal. Maka biarkanlah aku dan sendiriku, agar aku tidak melupakan siapa aku.

Dengung terdengar, berbalik aku melihatya
Tapi, apa yang ada?
Kekosongan...
Hampa tanda kesendirian
Aku bertarung dengan semua ego
Untuk menjaga jiwa
Kenapa? Aku harus menjadi mereka, tanyaku
Siapa mereka?
Toh Tuhan sudah berkehendak
Jadi tolong biarkan aku.

*Secarik surat dari aku yang menyendiri
 

Komentar