Kamu dan Kilauanmu



Melihatmu selayaknya melihat sebuah kilauan. Senyumu, tatapanmu, ucapanmu, bahkan gerikmu nampak berkilau. Aku mendambamu, sebab kau memanglah indah dimataku. Kamu indah, sadarkah engkau bahwa kau telah menghilangkan sebagian kesadaranku. Aku terpaku, sejenak melupakan bebanku dengan melihat kilauanmu. Terlalu indah. Dengan melihatmu dari sudut yang bahkan engkau tak menyadarinya. Kau bagaikan sorot senja sore yang indah dan hangat. Taukahkah kamu? Kamu merupakan salah satu harapan yang aku inginkan. Apa yang aku inginkan? Aku bahagia bahkan hanya dengan melihat mu. Menyenangkan sekali. Kamu tahu aku bukan membabi buta membayangkanmu. Aku hanya seseorang yang menikmati senjaku, yaitu kamu. Terima kasih atas kehadiranmu, aku merasa selalu bisa menjadi diriku sendiri ketika melihatmu. Walaupun, kamu tak tahu keberadaanku. Aku senantiasa melihatmu sebagai penolongku. Maafkan aku jika kekagumanku ini menganggumu. Sungguh, aku tidak bermaksud apapun. Sebab bagiku, kamu adalah senja hangat yang menyapaku setiap sore, Terimakasih senjaku aku berjanji akan kuat menghadapi pagi esok, agar aku bisa melihatmu lagi wahai senjaku.

Taukah kamu...
Wahai senjaku...
Bahagiaku ada bersamamu,
Walau aku bahkan tak tampak untukmu,
Taukah kamu...
Aku selalu bersyukur,
Diberikan Tuhan kesepatan melihat kilauanmu,
Kamu indah,
Dan indahmu menyelamatkanku,
Terima kasih wahai senjaku,
Aku berjanji, aku akan kuat.

*Secarik surat dari aku yang mendambamu

Komentar