Aku yang meng-aku



Aku merasa lelah, kemudian kehilangan arah. Selanjutnya, aku merasa bahwa keyakinan akan apa yang aku perbuat mulai menghilang, lalu aku harus bagaimana?. Tujuan hidup yang tak terarah, takdir yang entah seperti apa?. Bukan aku ingin mendahului kehendak Tuhan ku dengan merencanakan sesuai pintaku. Tapi, aku juga manusia biasa yang mungkin lelah dan bisa mengeluh. Maka, maafkan aku jika kamu merasakan kemarahan dan kegelisahanku, itu semua hanya sebuah pertanda bahwa aku juga hanya manusia biasa. Hanya sebatas itu yang aku bisa dan hanya itu yang aku mampu. Aku tidak sanggup menjadi manusia yang lebih dari ini. Aku tahu, Tuhan selalu memberikan ujian yang sama, itu berarti memang aku tidak dapat melaluinya dengan benar, tentu itu mutlak memang kesalahnku bukan Tuhanku. Tetapi, terkadang sejenak aku merasa benar-benar kehilangan kepercayaan diri, bahkan hanya untuk sebuah angan, untai kata hanya sampai pada batas kedip mata, kemudian mengilang. Terlalu berat memang, menurutku berat. Semakin banyak hal membuat fisik, batin, dan mental kian hari kian tergerus. Dan aku mulai kehilangan aku.

Lambai-melambai mata sendu,
Berharap dapat menemukan jawaban,
Tapi sayang,
Tirai masa depan kian lenyap,
Aku... terhenti di perapian,
Bersama marah dan kegelisahan,
Semakin terhempas entah kemana,
Semakin menghilang jengkal demi jengkal,
Marah... tapi entah pada siapa?
Tuhan ku... keluargaku... temanku?
Atau jawaban klasik,
Pada diriku.

*Secarik surat dari aku yang meng-aku

Komentar